
Lain pengetahuan lain pula dengan hikmah, jika diumpamakan antara pengetahuan dan hikmah mungkin seperti orang yang memberi cek senilai 50 juta, hanya sayangnya cek ini hanya bermanfaat kepada orang yang diberi, sedangkan yang berikutnya hanya mendapatkan fotocopy dari cek tadi. Perbedaannya bisa dilihat dari nilai dan fungsi yang melekat serta efek hujamnya dalam melangkahkan kaki bisnisnya ke depan.
Untuk lebih jelasnya kita bisa lihat di blognya Jendral, dari artikel beliau banyak hikmah yang bisa kita ambil, hanya pertanyaannya apa kita berada di tingkat pengetahuan atau hikmah ?
Tentunya kita sepakat untuk tidak mengulangi kesalahan (baca: kenaifan) orang lain.
[Salut untuk Jendral yang menulis dengan jujur beberapa elemen kedewasaan bisnisnya]
Jika Anda bertanya ke saya bagaimana mendapatkan hikmah agar tidak salah melangkah ?
memikirkan berulang2 kesalahan orang lain sebagai proses pembelajaran seolah-olah kita sendiri yang mengalami, cukup layak untuk dilakoni dibandingkan kerugian hingga jutaan rupiah dan subhanallah, ... ajaibnya kesalahan melangkah sendiri adalah sebuah hikmah.
====================================================================
Mengenal tingkat keyakinan diri
Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Maka, rugilah orang-orang yang hatinya bergantung pada selain Allah. Yakinlah, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sayangnya, kita sering mengatakan bahwa Allah itu Mahakaya, tapi kita sering takut tidak mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah itu Maha Menentukan segala sesuatu, yang Menciptakan manusia berpasang-pasangan, tapi kita sering risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih berada dalam tingkat 'ainul yaqin dan belum sampai ke tingkat haqqul yaqin.
Mengapa ada orang yang keluar dari Islam (murtad)? Sebabnya, keyakinan yang ia miliki baru sebatas 'ilmul yaqin; sebatas tahu. Ternyata, yakin kepada Allah hanya sebatas ilmu tidak cukup untuk membuat kita istikamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari. Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati seorang hamba ternyata datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal dari cahaya Ilahi.
Ibnu Atha'illah dalam Hikam bertutur, "Nur yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Nur yang memancar dari panca indramu berasal dari ciptaan Allah; dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah".
Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya inilah yang harus selalu kita jaga. Mulailah kita usahakan untuk selalu dapat mengenal hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun, mata hati tidak akan berfungsi dengan baik, kalau selalu dikotori dengan kemaksiatan dan dosa. Wallahu a'lam bish-shawab.
( KH Abdullah Gymnastiar )sumber
No comments:
Post a Comment