Meski bukan produk baru, toh beberapa produsen berhasil membuat produknya tampil bersinar tahun ini. Di antaranya, Mizone dan J.CO Donuts. Melakukan berbagai inovasi tanpa batas adalah resep suksesnya.Nice flavour. Nice shapes. Nice color. Itulah serentet kata yang terlontar dari mulut Sisca, 31, mengenai Mizone. Rasanya beda banget, begitu kata Oki, 21. Botolnya bisa buat tempat minuman kalau sudah habis, aku Ocha, 18. Lebih gampang dicari di warung pinggir jalan, ucap Gita, 25. Dan, masih puluhan ungkapan sejenis yang wara-wiri di banyak milis di jagat maya menyoal sukses minuman Mizone.
Kehadiran Mizone memang tergolong cukup istimewa. Hanya dalam tempo setahun sejak diluncurkan ke pasar, 27 September 2005, Mizone cepat merangsek pasar minuman isotonik dan mampu bercokol di posisi kedua sesudah Pocari Sweat. Bahkan, Mizone ikut menggoyang pasar minuman panas dalam yang selama ini digawangi Cap Kaki Tiga. “Kategori panas dalam agak gerah juga karena pasarnya tersedot Mizone,” ungkap Harry Sanusi, CEO Grup Kino.
Di mata Thomas Darmawan, ketua Gapmmi (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia), Mizone adalah merek yang punya pengaruh kuat sepanjang tahun ini. Sepak terjang Mizone, katanya, banyak diikuti oleh produsen lainnya yang mengusung produk sejenis. Sampai-sampai kesuksesan Mizone itu juga “digoyang” oleh isu pemakaian bahan pengawet yang kini ramai diperbincangkan.
Diskusi Warta Ekonomi bersama Roy Sembel (staf pengajar Magister Manajemen Universitas Bina Nusantara), Yuswohady (chief executive MarkPlus Institute of Marketing), dan John T. Tanuwidjaja (vice-president business management AndrewTani&Co.) juga menempatkan Mizone sebagai satu dari empat produk yang dianggap paling berpengaruh tahun ini. Lainnya adalah donat J.CO Donuts & Coffee, minuman teh hijau dalam kemasan, dan reksadana terproteksi. Hasil diskusi menilai keempatnya merupakan produk yang cukup kuat di pasar, inovatif, dan penjualannya naik tinggi sepanjang tahun ini.
Harry Sanusi, yang juga mencatat Mizone sebagai produk paling berpengaruh tahun ini, menggelar riset kecil-kecilan di sejumlah tempat untuk menemukan rahasia sukses produk buatan PT Aqua Golden Mississippi Tbk. itu. Hasilnya? Mizone sukses karena tiga hal utama, yaitu tampilan kemasan, rasa, dan harganya. Tampil dengan sosok botol bongsor berwarna biru yang menyegarkan dan cuma dibanderol Rp2.500 di pasar, Mizone 500 ml tentu gampang merebut perhatian konsumen yang mencari isi lebih banyak dan harga lebih murah untuk minuman bernutrisi. “Harganya 20%—30% lebih murah daripada pesaingnya, Pocari Sweat,” kata Harry. Sebab, saat ini, Pocari Sweat ukuran 330 ml dilempar ke pasar seharga Rp3.500 per kaleng.
Selain itu, Mizone, yang hadir dengan dua pilihan rasa yaitu orange lime dan passion fruit, jadi tampil beda dibanding pesa¬ingnya, Pocari Sweat, yang rasanya “hambar”. Belum lagi, dukungan jalur distribusi Mizone, yang memanfaatkan jalur distribusi air mineral Aqua, membuat produk ini singgah hingga ke warung pinggir jalan. “Kalau dipikir, itu semua kan kembali ke rumus 4P yang sudah ada,” ujar Harry, tergelak. Artinya, Mizone adalah produk yang memenuhi semua unsur 4P (product, price, place, promotion).
Menurut Roy Sembel, J.CO mampu mengubah wajah bisnis donat yang selama ini ada di Indonesia. Tampil dengan konsep open kitchen (dapur terbuka), yang memungkinkan konsumen menyaksikan langsung pembuatan donat, memberi pengalaman lain kepada konsu¬men. Hal senada diucapkan Yuswohady. Ia melihat J.CO sanggup mendobrak pakem sebagai merek lokal yang mampu bersaing dengan merek global. “Selama ini kan yang menggebrak biasanya global brand,” kata Yuswohady.
Daniel Surya, chief representative Landor Indonesia, perusahaan jasa branding, pun sepakat bahwa J.CO Donuts memang pantas disebut sebagai salah satu produk paling berpengaruh tahun ini. “Yang istimewa adalah penciptaan mereknya sebagai merek lokal yang bersaing dengan merek global,” kata Daniel yang juga direktur Young and Rubicam Brands ini. Selain itu, tambahnya, J.CO berhasil mengubah pandangan orang terhadap donat, yaitu menjadi makanan selingan yang layak dibeli, meski mereka harus antre untuk mendapatkannya.
Keinginan untuk memasuki bisnis donat, menurut Johnny Andrean, presdir PT J.CO Donuts & Coffee, sebenarnya sudah ada sejak lima tahun lalu, jauh sebelum ia membeli BreadTalk, waralaba toko roti asal Singapura. Kala itu, ia ingin masuk ke bisnis donat tanpa harus menjadi bayang-bayang pemain dan merek yang sudah ada. Intinya, suami Tina Andrean, seorang perancang gaun pengantin, ini ingin membuat dan menciptakan pasar sendiri lewat inovasi yang diberikan pada donatnya. Mulai dari donatnya yang dibuat lebih lembut dan punya banyak pilihan rasa, hingga penyajiannya yang dibuat fresh (langsung) dari oven dalam keadaan hangat. “Saat J.CO hadir, belum ada satu pun donat yang fresh from the oven,” kata pria yang juga pemilik jaringan Salon Kecantikan Johnny Andrean ini.
Keberanian Johnny mengusung merek sendiri dianggap nilai lebih J.CO sebagai produk paling berpengaruh dibanding merek lain seperti Mizone. Sebab, menurut Yuna Prabawangi, presdir PT Asuransi Raksa Pratikara, pemilik J.CO sanggup menancapkan mereknya dengan sangat bagus dan begitu cepat. Apalagi, merek yang diusung adalah merek lokal yang mampu bersaing dengan merek global. Jadi, “Merek lokal bisa lebih terinspirasi untuk bersaing dengan merek global lainnya,” katanya.
Rasanya Yuna tak keliru. Sebab, menurut Johnny, saat ini ia berhasil membangun 15 gerai J.CO Donuts & Coffee dari target 18 gerai hingga tahun ini. “Dalam waktu dua tahun lagi, J.CO harus hadir di seluruh Indonesia,” tegas Johnny kepada Warta Ekonomi.Sudah siap dengan 4P ?
No comments:
Post a Comment